Suci Dibalik Murka Bumi

image

Gemercik hujan pun turun.
Basahi bulan di ujung tahun.
Teringat akan kuasa mu tuhan.
Dan peristiwa negeri yang kau hentakkan.

Malang melintang mereka lari berhamburan.
“Ibu ? “Ayah ?”Anakku ?” Tolong ,Tuhan !!”
Ucapan singkat yang di temani kepanikan.
Tapi ku sadar marahmu bukan untuk ditawar.
Agungmu terlihat , biar ,agar kita tersadar. lalu,

Kau goncangkan bumi kecil mu.
Kau tarik ombak tenang mu.
Kau gulingkan lautan indahmu .
Lalu daratan kau ratakan menjadi serpihan pilu.

Dosa akan berujung api .
Namun Tuhan , maafkan kami yang sering tak sadarkan diri.
Jangan selalu kau murka atas keliru kami . lagi,
Dan mereka yang kembali , semoga ada pada jalan yang kau ilhami.

NB :

Puisi ini saya buat untuk saudara saudara kita yang terkena bencana di tahun 2018 entah kecil atau pun besar , terkhusus untuk saudara kita di palu , lombok , lampung , banten . Semoga doa pun juga menjadi dukungan batin untuk mereka yang dilanda bencana , god bless u all , assalamualaikum 🙏

Puisi edisi hari ibu , silahkan beri judul , aku pusing karna masih amatir .

Kering ku mengering
Landai tanah panas matahari bising
Fatamorgana menyadarkan isi kening
Kau banyak terluka , namun tetap hening.

Sekarang aku sadar.
Tapi tidak , kurasa kau lebih nanar
Terhempas ombak ambisi basahi sanubari
Terkoyak angin , marah, hancurkan tiap sisi , darimu.

Tuan , apa kau memiliki koleksi permata ?
Harap ku miliki demi mengganti luka air mata
Namun aku dalam sadar , walaupun ku pemilik dunia dan isinya
Semata mustahil , ku bayar setitik keringat dari nya.

Suram ku berdiri , diatas luka.
Dimana kau bercerita tentang dongeng saat ku belia.
Teka teki ini nyata dan ku terkekang dalam dosa , dimana aku tak percaya ,jua.

Maaf ,jauh ku sanggup membalas apa apa
Namun ,kasih tulus ku ucapkan sebagai rasa cinta. Untukmu nyonya terhebat , yang ku sebut bunda.

NB :

Untuk ibu yang selalu sabar berjuang dan memberi dukungan serta kebahagiaan untuk anak yang selalu membuat nya kelelahan tapi dia selalu lupakan.

Prosa Daif era Modern

Lalu kulanjutkan pena hitamku bergerak menggauli selembar kertas.

Dan bertumpu pada sebuah gubuk tua yang di huni seorang ibu bersama seorang buah hati.

Ia bernama warsih , perhiasan nya adalah sebuah plastik yang menjadi alas tidur mereka , rumah mewahnya berlapis kayu yang sudah rentan di makan rayap , tahtanya adalah kemiskinan.

Berbekal pendidikan bertahan hidup kulihat warsih sangat berambisi untuk mendapatkan sesuatu yang berharga di dunianya , yaitu segumpal nasi , bersama anak nya dan langkah kaki yang tak ragu ia cari harta karun tersebut di setiap hari nya .

namun sayang , perjuangan nya hanya berupah daun , yang bisa jadi sajian nikmat, pagi,siang dan malam.

Sore hari sesampai di istana nya , warsih dan anak nya bersiap untuk menggelar pesta , dibakarnya segerombolan kayu untuk memanggil sang api sekedar berkumpul bersama menikmati pesta seorang warsih, lalu direbuslah daun yang akan menjadi hidangan pesta sore itu.

Waktu pesta tiba , dengan hidangan daun rebus , di iringi musik dari balik suara serangga kecil , warsih dan anaknya terlihat bahagia ia terlarut menikmatinya, hingga habis jam kerja matahari.

Saat nya istirahat dari hiruk piruk tadi , warsih dan anaknya tidur beralaskan emas plastiknya itu, tubuh mereka dibungkus selimut dari semilir angin , dan cahaya dari kegelapan. Bersama harapan kecil dari alam semesta yang kaya raya dan keagungan Tuhan yang maha esa.

Literatur Dunia

,

,

,

,

,

,

,

,

,

,

,

,

,

,

,

,

,

,

,

,

,

,

,

,

,

,

,

,

,

,

,

,

,

,

,

,

,

,

,

,

Kiasan yang kau cari itu semu , dan kau salah jika mencari potongan kata mutiara yang bisa kau copy lalu kau sebar di sosial media mu disini .

Aku takan pernah merasa tulisanku sempurna lalu terus menulis dengan pena hitam , dan kau takkan puas mencari tulisan baru untuk kau baca di waktu senja.

Aku takan puas mencari sesuatu yang berarti di hidupku

Lalu kau pun takan puas menguras keringat untuk sesuatu yang kau mau.

Lagi dan Lagi.

Sebelum kau dan aku menemukan tanda titik (mati).

Selamat datang , Lekas Kembali

Terbaring tarbangun , selalu utuh meski kadang matahari sedikit menyentuh , malam dingin bersama semilir angin , ku bersembunyi di balik selimut yang tertata abstrak .

Pesan demi pesan ku baca , ekspresi demi ekspresi ku ungkapkan , meskipun tak pernah terungkapkan secara moril.

Esok hari aku akan terlepas , burung burung menunggu diatas ranting , sekedar mengucapkan “selamat pagi kawan , lekas berbaring kembali, dunia ini hanya sekumpulan kebosanan yang terkumpul dalam insan manusia yang berusaha untuk melepaskan rasa bosan , tapi pada dasar nya luka itu takan pernah lari dari mereka yang rela berkeringat demi menghapus rasa bosan yang tak pernah hilang”.

Miris, setelah itu aku akan tersenyum , untuk mengobati rasa bosan ku sendiri teruntuk hari ini.

Lalu ku sampaikan kembali salam selamat sang burung kepada orang lain bahwa burung bernyanyi dengan murni dan tak pernah merasakan luka yang paling sakit di dunia ini yaitu “Kebosanan” , dan selamat kau telah tercipta sebagai “Manusia”.